Melly’s Garden di bilangan Wahid Hasyim, malam baru saja mulai.
Ada beberapa teman lama ngumpul: Fendry, Jawon, Aji Bool, Sinnal, Victor da Kontras, dan Kakak Su (cina satu ini baru balik dari Filipin, secara ajaib ketemu di depan Sarinah setelah empat atau lima tahun menghilang) dan tentu saja Irma, sang ibu negara. Di meja sebelah sana, ada kaum tua: Jemek, Petrus, Sere (all ex Parade), sama satu lagi gak kenal.
Malam semakin matang bersama cerita, tawa dan alkohol. Aji ngajak nonton striptis. Deal. Setelah screwdriver gelas terakhir, kami bergerak ke TKP: hotel Al*x*s di arah Ancol. (Sepanjang jalan, Fendry pidato, menyanjung-puja Fay, seolah-olah dia adalah dewa yang baru turun dari langit untuk menyelamatkan Indonesia). Tengah malam lewat sedikit, kami masuk. Sangat mungkin menarik perhatian, mengingat tampilan masing-masing kami samasekali tidak mencerminkan kepribadian seorang clubber. Suasana dan musik selatan. Di belakang bartender ada akuarium. Di sebelah agak dalam, ada stage memanjang in the middle of crazy crowd. Inilah altar pemujaan kaum hedonis.
Ritual dimulai. Lima orang perempuan muda masuk, mendaki panggung. Wajah dan tampilannya, sejahtera belaka. Musik selatan makin menghentak, and the girls light up the night! Mereka bergerak dalam koreografi pas-pasan. Tidak apa, alkohol dan ekstasi akan menjadikan tarian mereka tampak indah. Mereka terus bergerak sambil melepaskan satu persatu pakaiannya, bagai Salome yang menari untuk King Herod. Di akuarium, yang tentu saja bukan berisi ikan, tiga dancer, 2 cewek dan 1 cowok, meliukkan badan bak sedang berpraktik Kamasutra. Telanjang, tentu saja.
Ada yang emosi, ada yang mupeng..
Tarian begini konon sudah ada sejak kebudayaan Sumerian kuno. Dalam mitos diceritakan Dewi Inanna yang menari turun ke Kur (underworld) demi kesuburan bumi. Pada masing-masing tujuh gerbang yang dilaluinya, sang dewi cinta melepas pakaian dan perhiasannya. Tapi sejarah modern striptease baru lahir ketika Oscar Wilde mementaskan Opera Salome pada 1800-an akhir: The Dance of the Seven Veils.
Pulang. Kepala masih penuh, kepikiran cewek-cewek itu. Mereka melepaskan seluruh pakaiannya karena mereka harus. Striptease secara legal adalah perbuatan melawan hukum, tapi mereka mementaskannya di public space.. luar biasa! Aku sangat yakin, psychologically, mereka akan sangat terluka. Just curious (semoga menjadi empathy), bagaimana kehidupan social mereka..
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


No comments:
Post a Comment