Pagi jam 9 (150409) mendarat di Harbour Front. Mulailah perjalanan memasuki negara kota nan efisien ini. Di loket pendaftaran pasport ditanyain sama si penjaga (rada tua dengan bahasa melayu yang aneh) mau ngapain di Singapore, berapa lama, dll. Kemudian disuruh masuk ke kantor imigrasi. Menunggu di kamar sempit berisi 5 atau 6 kursi, dengan gambar print-out hp dicoret. Dipanggil, ditanyain lagi, mau kemana, ngapain, bawa duit berapa. Busset, apa kondisi fisikku lebih mirip anggota JI daripada traveller?
Lepas dari petugas imigrasi yang menyebalkan itu, aku masuk ke stasiun kereta di bawah tanah. Mudah sekali mempelajari route MRT di negri ini. Tujuan pertama: Farrer Park. Tempat ini kayaknya adalah area perbelanjaan yang tidak begitu mewah. Dan benar, begitu muter-muter di mall Mustapha: full of India. Penjual, pembeli, resto-resto di sekitarnya, India semua..
Numpang sholat di masjid deket situ (kinda social sholater). Nama masjidnya lupa, tapi masjid ini nggak begitu besar & yang pada sholat disitu juga kebanyakan India. Hebatnya: di papan pengumumannya ada ditempelin laporan keuangan yang audited!
Ok, sekarang waktunya untuk makan siang. Singapore mengklaim diri sebagai ibukota makanan Asia. Pilihanku adalah mie goreng india (with no pork) dan teh india (lupa namanya, tapi kata bibi india yang ramah itu, minuman mirip teh tarik ini dicampuri dengan 5 jenis rempah-rempah). Makan siang yang rada aneh..
Abis itu naik MRT lagi.. luar biasa efisien kota ini, aku jauh lebih mudah tersesat di Jakarta walaupun sudah ribuan kali aku menelusuri jalan-jalannya. Negara ini sudah jauh meninggalkan awal sejarahnya yang sederhana: perkampungan nelayan, sebelum kemudian Majapahit menjadikannya pelabuhan.
Ini puncak acaranya: menelusuri Orchard road dan mengutuki kemiskinanku.. Jalanan ini ceritanya adalah Malioboro dengan kadar kenyamanan yang jauuh lebih baik. Trotoar untuk pedestrian sangat lebar dan nyaman. Mall dan butik mewah bertebaran, nggak tega liat harga-harganya. Duduk bentar di depan Takashimaya building, sembari bermimpi siang kalo saja bisa pindah ke Petral :).
Menjelang sore, naik bis kota (yang SGD 1.2 bukan bis wisata kota yang SGD 23). Tujuannya: Merlion Park. Lewat Esplanade (harusnya nonton opera atau konser musik di sini, tapi okelah, next time..). Pusat seni ini hanya berjarak 10 menit berjalan kaki dari Stasiun MRT City Hall melalui jalan bawah, yang juga menghubungkan empat pusat perbelanjaan - Raffles City, Marina Square, Suntec City dan Millenia Walk.
Berhubung halte bis-nya tidak tepat di depan Merlion Park, maka harus jalan kaki bentar menelusuri pinggir pantai (bukan sok romantis, tapi emang bagus banget). Patung legenda negri bercerita tentang singa yang terlihat oleh Pangeran Sang Nila Utama saat ia menemukan kembali Singapura di tahun 11 M. Acara utama: foto-foto. Setiap turis yang datang ke Singapore punya kewajiban mental untuk berfoto dengan latar belakang patung ini.
Berjalan kaki menuju taman yang konon merupakan lokasi pendaratan pertama Raffles. Bangsawan Inggris ini berjasa besar menjadikan pulau ini teramat sejahtera (GDP percapita USD 52.000, bandingin sama Indonesia yang USD 3.900) Sempat tersesat di belantara pencakar langit, trus naik MRT lagi. Menuju Harbour Front. Sebelum nyebrang, sempat beli Jim Beam, buat ntar malem .
Malam-malam di Nagoya, Batam. Menelusuri jalan-jalan semrawut dan berlobang, dengan soundtrack musik dangdut remix. Gastronomi: ayam goreng full kolesterol. My God.. this is my beloved country.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


No comments:
Post a Comment