Catatan ini dibuat di tengah kampanye para capres yang katanya pada anti neolib.
Jauh sebelum kampanye capres, kata neolib hanya populer di kalangan aktivis kiri dan kekiri-kirian. Di kalangan ini, neolib berarti haram, musuh bersama, terkutuk dan sebagainya. Kata ini juga berarti sumber segala kebobrokan dan kemiskinan yang ada di setiap sudut bumi.
Konon, kapitalisme-lah yang melahirkan neoliberalisme. Tahun lahirnya adalah 1989, dirayakan oleh ketiga badan keuangan paling berpengaruh di dunia: IMF, World Bank dan Departemen Keuangan Amerika Serikat. Sang bayi neolib ini semula dikenal sebagai Washington Consensus –mengacu pada tempat kelahirannya- dan berisi kira-kira sepuluh resep ekonomi bagi crisis-wracked developing countries. Empat resep yang selalu menjadi sasaran tembak lawan-lawannya adalah: penataan kembali subsidi, liberalisasi perdagangan, liberalisasi foreign direct investment dan privatisasi BUMN.
Back to capres campaign. Kata neolib yang tadinya secara sah dimiliki “orang-orang di persimpangan kiri jalan” sekarang menjadi dagangan para capres. Neolib menjadi kata yang seksi untuk kampanye. Mega-Prabowo menyerang SBY-Boed dengan kata ini, seolah-olah sang capres adalah pelaksana setia dan cawapres adalah ulama neoliberalisme. Yang dituduh tidak terima: mereka menyangkal dengan keras. JK si pedagang dan Wiranto si tentara juga tak luput dari serang-menyerang bersenjata kata neolib ini. Semuanya sama: pengen dikesankan anti neolib. Hey, look who’s talking!
Tanpa disuruh pun, mereka akan saling menelanjangi satu sama lain (thanks to democracy). Mega menjual tujuh BUMN, menandatangani kontrak-tak-masuk-akal gas Tangguh dan mengirim Sri Mulyani menjadi duta Indonesia untuk IMF. SBY menambah rekor hutang luar negri menjadi Rp 1700 trilyun, dan JK pemain pasar dengan banyak keluarga yang juga pedagang. Prabowo –kandidat terkaya, paling keras menyerang neolib- adalah eks tentara dipecat yang punya beberapa kuda seharga 5 milyar rupiah. Boediono sang pewaris ilmu-ilmu kapitalisme, dan Wiranto, tentara setia penjaga Orde Baru dan Soeharto.
Inilah penjabaran butir-butir Washington Consensus di negeri kita, laa raiba fiihi!
Dan anehnya, tidak ada satupun dari kandidat itu yang menyerang neoliberalisme dengan Marxisme. Padahal hanya karya Pak Jenggot inilah yang menyediakan diskursus ilmiah untuk mengkritik dan secara konsisten melawan kapitalisme-neoliberalisme. Capres-cawapres itu hanya menyajikan satu andalan untuk di-kontra-kan dengan neolib, yaitu ekonomi kerakyatan. Ada yang bisa jelasin what the hell ekonomi kerakyatan itu?
Oke, saya sudah bosan dengan para capres-cawapres.
Semuanya berawal dari subprime-mortgage-crisis di US dan menjalar tak terkendali ke seluruh dunia. Dunia finansial berduka mendalam dengan hancur-leburnya indeks saham (IHSG dari 2750 mampus ke 1111) dan prestasi ekspor. Katanya, ini adalah krisis terburuk sejak krisis tahun ‘30-an yang melahirkan nama besar neo-kapitalisme: Keynes.
Tapi bukankah hidup di dunia kapitalisme lebih indah? he..he..
“Apa yang sebenar-benarnya saya yakini bukanlah kapitalisme dan globalisasi. Yang menghasilkan segala yang bisa kita saksikan di sekeliling kita dalam bentuk kemakmuran, inovasi, komunitas dan budaya itu bukanlah sistem ataupun sekumpulan aturan. Hal-hal tersebut adalah ciptaan manusia. Yang saya yakini adalah kemampuan manusia untuk menghasilkan hal-hal besar dan kekuatan gabungan yang muncul dari interaksi dan pertukaran kita. Saya mengimbau terwujudnya kebebasan yang lebih besar dan dunia yang lebih terbuka. Ini bukan atas dasar keyakinan saya akan adanya satu sistem yang lebih efektif daripada sistem lainnya; melainkan keyakinan saya bahwa kebebasan dan keterbukaan menyediakan latar yang sanggup membebaskan kreativitas individual. Tidak ada sistem lain yang mampu menyediakannya sebaik itu. Kebebasan dan keterbukaan menggerakkan dinamisme yang telah membawa kemajuan di bidang kemanusiaan, ekonomi, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Menaruh keyakinan terhadap kapitalisme bukan berarti percaya pada pertumbuhan, ekonomi atau efisiensi. Meski hal-hal tersebut baik untuk dicapai, mereka hanyalah sejumlah akibat. Pada intinya, keyakinan terhadap kapitalisme adalah keyakinan terhadap kemanusiaan.“(Norberg).
Anyway, apa sih yang salah dengan neolib? :)
21 June 2009
Subscribe to:
Posts (Atom)

