Jogja, sekitar 20 Juli 09
Ini cuma catatan remeh-temeh tentang wisata kuliner di Jogja.
Sebenarnya ada banyak tempat makan yang sudah di-entry di shopping list, tapi karena kendala waktu dan padatnya aktifitas (syuting, pemotretan he..he..) maka harus ada sebagian yang diikhlaskan untuk menjadi pending matters.
Malam milik Jogja. First target: bakmi Robiyah (mohon maaf bila terdapat kesalahan dalam penulisan nama). Robiyah adalah legenda dalam dunia perbakmian di daerah Kotagede dan sekitarnya, salah satu dari sedikit maestro bakmi. Jam 8 malam, ditemani ibu negara, meluncur ke TKP. Tapi pas kita kesana, warungnya sudah nggak ada bekasnya lagi. Berdasarkan info A1, beliau sudah pindah tempat. Lokasinya agak nyempil: SMPN 9 Kotagede ke utara, setelah pertigaan ada lorong ke kiri (mark: papan rias pengantin dan plang kecil bertuliskan “bakmi jawa”). Saat masuk kesitu.. kok rada aneh. Sepi, nggak ada pembeli dan tempatnya terlalu rapi untuk sebuah warung bakmi jawa. Seorang ibu agak tua menoleh dan tersenyum ramah. Yes, betul, ini dia sang legenda: Robiyah. Menu malam ini: bakmi rebus. Kira-kira 10 menit kemudian, the living legend tampil di hadapan kami menyajikan bakmi rebus yang mengepul-ngepul menebarkan aroma yang sangat menjanjikan. Menyeruput kuah bakmi rebus beserta seluruh aura malam Kotagede. Malam segar-bugar! Saat-saat kemudian, beberapa rombongan orang berdatangan. And the legend continues…
Orang yg terakhir datang: “ngentosi pinten bu?”
Robiah: “sedoso!”
Orang yg terakhir datang: duduk dan menerima takdirnya.
Next target: Warung Jejamuran
Hari yang baru dan siang yang menyiksa. Setelah takziah di keluarga seorang teman lama, kami meluncur ke sudut barat daya Jogja. Terminal Jombor terus ke arah utara, sampe traffic light lalu belok kanan. Nggak lama, voila.. ! Warung Jejamuran. Ini resto agak unik, karena hanya menyajikan menu2 dari bahan jamur. Konon, si pemiliknya semula adalah pengembang-biak jamur berbagai jenis, sampai kemudian dia juga membuka resto khusus jamur. Macem-macem jamur dengan macem-macem model masakan ada disini. (sayangnya, jamur masrom yang dulu sering kami konsumsi sebagai salah satu ritual mabuk murah-meriah, tidak ada di daftar menu). Pesanan kami: sop jamur, jamur manis pedas, sate jamur, dadar jamur & jamur goreng tepung. Sebenernya ada minuman jamur, tapi sudahlah.. too much jamur will kill you. Semua masakan jamur itu enak belaka. Tapi bagiku yang paling mantep adalah dadar jamur (mungkin karena rasanya mirip dengan jamur masrom plus telor jaman SMA dulu). Kesimpulan: enak, lain & tidak mahal.
Malam baru saja mulai di seputaran Jalan Kaliurang. Ditemani Komo, pengusaha muda sukses dan Tono Penjol, pewaris satu kerajaan bisnis perhiasan, kami mencari permata kuliner Jogja yang sering terlupakan: bacem kepala kambing Kolombo. Ringroad Jakal masih ke utara, sampai pasar Kolombo belok kanan, lurus sampai pertigaan kecil. Warungnya disitu: penerangan yang tidak mencukupi dan tulisan “Warung Bacem Kepala Kambing” yang tidak percaya diri. It doesn’t matter. Yang penting ini: empat porsi bacem kepala kambing plus sambel manis pedas, tiga porsi nasi, dan tiga jeruk panas. Tampilannya cukup beradab: tidak tampak lagi sebagai kepala kambing tapi sudah dipotong-potong kecil, warnanya coklat matang sebagai akibat pembaceman dan penggorengan. Rasanya gurih & manis, plus pedas karena ditambahin sambel. Enak banget, dan berkhasiat meningkatkan kadar kolesterol.
Last target: Rumah Makan Tambak Segaran. Tempatnya di Jalan Bantul, setelah SMPN 1 Sewon, belok kiri dikit. Rumah makan ini ada di desa kerajinan Tembi, terintegrasi dengan hotel model bungalow desa dan museum kecil-kecilan. Yang rada menarik adalah menunya. Si pemiliknya berobsesi menyajikan kuliner yang tercantum dalam Serat Centhini, sebuah buku kuno dalam sastra era Pakubuwana IV, yang terkenal karena sebagian isinya mengungkapkan dunia seksualitas bangsawan Jawa.
Oke, cukup menarik. Kami pesan menu-menu ala Syekh Amongraga, Ni Ken Tambangraras dan Ni Centhini ini: tongseng bajing (tupai), oseng-oseng emprit (burung pipit), pisang goreng gula aren, dan wedang secang. Yang paling enak adalah tongseng bajing, dagingnya lembut dan kuahnya mantap. Yang paling tidak enak adalah nunggunya, loama.. Kesimpulan: recommended. Tempatnya bagus, menunya aneh & lumayan enak, harganya biasa.
Jadi, kapan kita ke Jogja lagi?
Kembali mengunjungi kota ini: berjumpa sahabat lama, bertemu teman baru, mengenang cerita lama, merangkai harapan baru..
Lalu kubelai separuh endapan pengalaman masa muda yang merah,
lalu kulupakan kesakitan dibedah cinta merah.
Di atas andong Yogya, berbinar segala romantika separuh basah..
Di atas andong Yogya, siapapun menyala bagai manik merjan-merjan perjalanan seorang pengantin..
*) Judul puisi karya Suryanto Sastro Atmodjo
12 August 2009
Subscribe to:
Posts (Atom)

