26 October 2010

Ke Taipei, menembus lorong waktu..



Tahun 1949, Taiwan masih menjadi satu kekuasaan dengan Cina daratan yang diamuk perang saudara. Chiang Kai Shek dan pasukan Republik China yang berhaluan nasionalis mundur ke Taiwan karena kalah dari Partai Komunis Tiongkok pimpinan Mao Zedong. Negri ini bahkan masih harus menanggungkan kerusuhan politik sampai tahun 2004, dimana presiden dan wakilnya tertembak dalam suatu kampanye terbuka. Peristiwa berdarah ini dikenang rakyat Taiwan sebagai Insiden 319.

19 Juli 2010, turun dari badan pesawat Airbus seri A330-300, setelah menempuh 3.800 km, kami bertemu dengan bandar udara yang tidak begitu mewah tapi rapi: Taoyuan International Airport di Taipei.

Orang-orang Cina... tak lekang-lekang kagumku pada mereka. Negeri ini telah bertransformasi menjadi negara pulau yang makmur sejahtera. Bersama-sama dengan Singapore, Korea Selatan, dan Hong Kong, inilah Empat Macan Asia. Taiwan adalah negara dengan skala ekonomi no 17 dunia, eksportir terbesar ke 16, dan penggenggam cadangan devisa terbesar no 4. Pendapatan per kapita penduduknya US$ 29.800 (nggak usah tanya Indonesia berapa, sedih ngebandinginnya..).

Hari sudah beranjak malam ketika kami sampai di Taipei Park Hotel. Lapar, tapi sangat tidak seru kalau hanya memilih cara aman makan malam di hotel. Setelah check-in, mulailah kami keluyuran di jalanan kawasan Daan tersebut. Agak lama muter-muter sekitar situ, bukan karena nggak ada yang jual makanan, tapi karena bingung mau makan apa dan gimana ngomong ke tukang jualan. Akhirnya kami ketemu suatu booth makanan yang rada rame, tampilannya mirip orang jualan bolang-baling di Sekaten Jogja. Kami mempelajari dulu modus pembeli lain, yaitu ambil panci terus ambil-ambil makanan setengah mateng yang ada (cumi, baso, jamur, tahu, ayam, sayuran), serahkan ke tukangnya, lalu dia akan menggorengnya, memberi bumbu, masuk kantong. Done. Pedes dan gurih. Untuk sebungkus besar buat berdua, makanan ini berbayar TWD 125 (kira-kira Rp 35 ribu).

Esok paginya, kami harus ke Nanjing East Rd., untuk bertemu dengan seorang cewek Cina yang ramah: Jessica Quek. Karena belum tahu medan, kami naik taxi kesana. Break makan siang disini ternyata bisa menjadi urusan yang lumayan rumit. Ada dari kami yang sangat concern pada kehalalan makanan, sedangkan Taiwanese loves pork so much. Aku sudah ngiler pada tawaran Jessica: kota ini sangat terkenal dengan beef noodle-nya, sedangkan sebagian lain pergi ke KFC karena takut minyak babi.

Urusan selesai, kami pulang ke hotel, tapi kali ini dengan naik MRT atau mereka menyebutnya: metro. Alat transportasi ini luar biasa reliabel dan efisien. Hampir seluruh sudut Taipei bisa kita jangkau dengan mode ini, dan ongkosnya lumayan murah (untuk jarak dekat dan menengah sekitar TWD 15 / Rp 4.500). Saya sarankan Anda beli dulu kartu serba bisa dan dapat diisi ulang –namanya Easy Card- yang bisa untuk bayar, tidak hanya metro, tapi juga untuk naik bis kota, sewa sepeda, naik kereta gantung, bahkan untuk membeli softdrink dan makanan ringan di swalayan. Untuk mempelajari lalu-lintas metro ini sangat gampang, peta jalurnya terpampang dimana-mana serta dicetak di berbagai brosur. Hanya butuh kecerdasan rata-rata untuk bisa mencapai tujuan di seantero Taipei ini menggunakan metro tanpa tersesat. Stasiunnya rapi, sangat informatif dan banyak fasilitas gratis: toilet dan air minum. Walaupun sangat ramai tapi orang-orangnya sangat civilized: berjalan rapi di sebelah kanan, naik eskalator juga berjejer mepet kanan (jalur sebelah kiri untuk orang yang jalan buru-buru) dan mengantri di lajur-lajur pinggir rel.

Aku melihat Jakarta beberapa (belas) tahun lagi akan serupa dengan Taipei ini: kemacetannya yang terkutuk bisa dipecahkan dengan transportasi massal yang rapi dan orang-orangnya bisa bertingkahlaku sebagai warga kota yang beradab.

Sore itu kami mau ke Shilin Night Market. Naik MRT di Daan, berganti jalur kereta di Zhongxiao Fuxing dan Taipei Main Station, lalu turun di Jiantan. Pasar ini sangat luas, tidak hanya berisi para penjual makanan, tapi juga baju, souvenir, macem-macem. Ada makanan terkenal yang harus dicoba disini, namanya stinky tofu. Ini adalah sejenis tahu yang berasal dari neraka. Baunya sangat dahsyat menyengat, mirip terasi yang kelamaan disimpan. Sangat tidak cocok untuk hidung dan lidah Melayu. Untunglah ada ini: kami menemukan antrian panjang di depan pasar, berupa orang-orang yang sedang membeli Hot Star Chicken. Ayam goreng seharga TWD 50 ini enak bukan kepalang. Kalau Anda adalah penggemar bebek goreng H. Slamet, maka ayam goreng Cina ini kegurihannya sepuluh kali lipat. Duduk di plaza Shilin, memamah-biak ayam goreng yang lezat, sembari menikmati pemandangan berupa noni-noni Cina nan putih sejahtera. Absolutely-mouth-watering-finger-licking-good!

Hari yang lain dan makanan yang lain. Dari hasil googling, kami mendapat info bahwa ada restoran halal di deket sini. Jadilah siang ini kami makan di Kunming Islamic Restaurant, di kawasan Nanjing. Menu yang dipesan: nasi briani, ayam tandouri dan bhindi (semacam daging sapi dimasak bumbu kari). Lumayan enak. Disini juga dihidangkan roti yang sama persis dengan roti ies yang banyak dijumpai di Kairo. Damage cost: Rp 60 ribu per orang.

Malamnya, kami jalan-jalan ke Mall Nova yang mirip Glodok atau Mangga Dua Mall, penuh sesak dengan barang elektronik dan gadget-gadget baru. Malam itu diakhiri dengan dinner di Shinkong Mitsukoshi., ini adalah gedung tertinggi di Taiwan, sebelum ada Taipei 101.

Pas pesen minum di satu booth, terjadi percakapan antara aku dan si wanita penjual:

Aku: “guava juice, please..”

Si penjual: “Indonesia?”

Aku mengangguk, muka tolol... Pasti karena tampang dan bahasa Inggris logat Jawa-ku.

Si penjual: “saya dari Cirebon, mas..”

Oalah..

Acara ribet makan berlanjut di hari berikutnya. Setelah Kunming, kami tidak menemukan lagi resto Islamic di deket-deket sini. Tapi ada alternatif: resto vegetarian. Semua sepakat. Ada masalah sedikit ketika kami masuk kesana, yaitu: tempatnya bagus banget, restoran bintang lima! Udah terlanjur masuk, nggak mungkin balik kanan. Inilah Chon Dow Vegetarian Restaurant, dengan biaya TWD 650 (Rp 180 rb untuk makanan yang hanya terdiri dari sayur, buah dan jamur) per orang, all you can eat. Ada yang sampe habis lima piring dengan alasan: nggak mau rugi. hehe...

Menyenangkan banget jalan-jalan disini. Orang-orang Taiwan mayoritas adalah etnis China Han, yang berkulit langsat, mata agak sipit dan rambut lurus. Nenek moyang mereka bermigrasi dari Cina daratan sejak abad 17. Kalau Anda jalan-jalan di Taipei, tidak susah menemukan ‘Agnes Monica’ sedang membagikan flyer di trotoar atau ‘Grace Natalie’ sedang ngantri naik kereta. Penduduk sini sangat sadar lingkungan. Sering terlihat di warung makan, they bring their own chopstick, karena alasan environment. Kalau Anda belanja di swalayan, tidak akan diberi kantong plastik kayak di Indonesia. Kalau butuh, harus bayar TWD 1. Kertas semua impor, tidak ada dari menebang pohon sendiri. Konon penduduk Taiwan didenda kalau menebang pohon. Buah-buahan juga mahal disini, sekantong jambu air potong dihargai TWD 100 (Rp 28 ribu).

Bensin (setara Pertamax 92) harganya per liter TWD 28,7 alias Rp 8 ribu. Dan katanya biaya parkir juga tinggi. Hasilnya: mobil pribadi jarang yang terlihat mondar-mandir di jalanan. Tapi itu juga ditopang dengan syarat utama: public transportation yang handal.

Sore-sore di Sun Yat Sen Memorial Hall. Tempat semegah ini didedikasikan kepada founding father Republik Cina. Disini ada bangunan besar yang berisi patung raksasa sang Bapa, lengkap dengan museum berisi benda-benda yang terkait dengannya. Di depannya adalah lapangan dengan taman yang luas dan nyaman. Hall ini juga menjadi tempat beraktifitas warga sekitar: olahraga, latihan dance atau sekedar berjalan-jalan dengan anjingnya. Selain Dr. Sun Yat Sen, ada satu lagi tokoh yang dibuatkan memorial hall di Taipei, yaitu Chiang Kai Sek. Presiden legendaris ini officially adalah pengganti Sun Yat Sen.

Ok, cukup dengan tokoh-tokoh masa lalu itu. Kita menuju ke landmark sekaligus ikon kemodernan negri ini: Taipei 101. Taiwan sangat akrab dengan bencana, terutama gempa dan typhoon, tapi hebatnya mereka bahkan membangun gedung yang luarbiasa ini. Dengan ketinggian 509 m, bangunan ini pernah menjadi gedung tertinggi di dunia sebelum dikalahkan oleh Burj Dubai pada 2007. Untuk menaiki gedung ini dengan lift tercepat di dunia, kita harus beli tiket seharga TWD 400 / Rp 110 ribu per orang. Kita akan dipandu untuk potret dulu (ntar, hasilnya bisa ditebus dengan TWD 350), kemudian masuk ke lift. Di puncak gedung ini, kita bisa melihat Taipei secara menakjubkan. Waktu terbaik untuk menikmati pemandangan ini adalah senja hari, jadi bisa menyaksikan kota ini pada saat terang sore dan saat malam lengkap dengan gemerlap lampu-lampunya. Di bagian atas Taipei 101 ini bersemayam Damper Boy, sebuah bola pendulum besar seberat 700 ton yang berfungsi sebagai penyeimbang gedung ini. Amazing...

Taipei yang mendung dan kereta menuju Longshan Temple. Kuil indah ini adalah tempat pemujaan untuk Guanyin, perwujudan Buddha sang Pengasih. Kalau Anda menyukai eksotisme masa lalu Asia, maka tempat ini harus Anda kunjungi. Di dekat Longshan Temple ini terdapat underground mall tempat makan dan belanja apapun, termasuk souvenir dengan harga lumayan murah. Perjalanan berlanjut ke Ximending Circle. Tempat ini adalah representasi kehidupan urban Taipei, pertemuan kultur pop dari berbagai ikon gaya modernitas: harajuku Jepang, western style dan fashion Korea. Anda tidak hanya bisa berbelanja, tapi juga bisa melihat atraksi artis-artis jalanan dan makan malam dengan tempat yang cozy. Dan bagi Anda turis laki-laki, ada info menarik: cewek-cewek disini suka sekali memakai hotpants.. hmm... Inilah Ximending, tempat Tao Ming Tse dan San Cai bertemu untuk memadu cinta (kalo nggak ngerti berarti nggak pernah nonton Meteor Garden :p ).

Besoknya adalah hari yang cerah. Destination: Taipei Zoo, kebun binatang terbesar se Asia yang menyimpan binatang dari surga: panda dan koala. Tempatnya bersih, rapi dan sangat luas. Karena kami nggak punya waktu lama (dan rada males jalan kaki) maka kesimpulannya: naik kereta gantung. Disini namanya Maokong Gondola, menempuh jarak sekitar 4 km, cukup menghibur dan sangat mendebarkan bagi saya yang agak mengidap acro-phobia. O ya, kalau Anda pecinta ketinggian, Anda harus mencoba ferris wheel yang di Miramar Shopping Complex: pas di puncak, ketinggiannya mencapai 110 meter!

Pernah makan di Din Tai Fung yang di Pondok Indah Mall atau Senayan City? Nah, kami mendapat anugerah berupa makan di Din Tai Fung, langsung di negri asalnya: Taiwan. Tak gampang makan di sini, kami harus rela untuk mengantri 1,5 jam untuk bisa dapat tempat duduk. Menu kami siang itu: chicken noodle, braised beef noodle, xiao long bao dan spicy shrimp wonton. Uenak buangett. Maknyus 100 kali. Sangat pantas restoran ini menjadi legenda dalam dunia kuliner pecinan. Damage cost sekitar TWD 350 (Rp 100 ribu) untuk masing-masing orang.

Meninggalkan Taipei dengan impian tentang Jakarta. Dukuh Atas, Harmoni, Senen pada 2019 nanti bertransformasi menjadi stasiun-stasiun MRT yang bersih dan efisien. Jalan Sudirman – Thamrin sampai Pondok Indah lancar dan tidak polutif. Para pengemudi berlalu-lintas dengan tertib, pun pejalan kakinya. Trotoar lapang dan nyaman. Semoga kiamat 2012 hanya isapan jempol..

12 July 2010

Bulan Sabit di Cairo

Jakarta 10 Juni 2010, lewat tengah malam.
Panggilan boarding dari pesawat Emirates yang akan terbang ke Kairo via Dubai. Perjalanan akan sangat panjang. Jakarta – Dubai 7 jam, transit 8 jam, dan Dubai – Kairo 4 jam. Tapi itu tidak akan berarti, di benakku tergambar jelas patung sang Nefertiti, ikon artefak Mesir kuno yang sangat terkenal. Perempuan cantik ini (nefertiti berarti ‘kecantikan telah datang’) adalah salah satu pharaoh Mesir kuno, cintanya pada Pharaoh Amenhotep dan Tutankhamen telah menginspirasi suatu kebudayaan besar. Aku sedang sangat bersemangat: menjelajahi Mesir adalah menziarahi 4000 tahun perjalanan satu puncak peradaban manusia.

Aku juga curiga, disinilah kapitalisme lahir. Kata kapitalisme berakar pada “kapita” yang berarti kepala. Kepala adalah satuan yang digunakan untuk jumlah ternak -yang merupakan kapital terpenting saat itu- sebagai bentuk akunting paling mendasar tentang kepemilikan (anehnya, di Indonesia malah pakai satuan “ekor”)
Metode penghitungan menggunakan istilah “kepala”sudah ada sejak Mesir purba. Hieroglif Mesir pertama yang berbentuk kepala ternak kemudian menjadi “alef” dalam abjad Ibrani atau “alif” dalam abjad Arab. Coba perhatikan huruf alpha: kita bisa melihat bentuknya yang mirip kepala ternak bertanduk.

Jam 7 malam waktu setempat (4 jam lebih lambat dari WIB), aku dan ibu negara mendarat di Cairo International Airport. Musim panas disini. Angin sahara yang kering berhembus kencang, tapi matahari masih bersinar terang. Sayang, tampilan bandaranya belum mencerminkan kekayaan negri ini, dengan revenue ± US$ 41 milyar (terutama dari tourisme, migas, tekstil, makanan, emas) dan penduduk sekitar 77 juta.
Setelah mengurus visa on arrival, yang hanya USD 15, kami menuju penginapan di daerah Ma’adi. Setelah membongkar koper, masalah pertama datang: kami baru sadar bahwa ada beberapa toilettries dan kebutuhan lain yang harus kami beli. Baru dua jam di sudut Afrika ini, dimana hampir seluruh penduduknya berbahasa Arab, berbelanja bagi kami adalah masalah rumit. Tapi hidayah segera datang: ternyata di depan penginapan kami berdiri dengan gagah: Carrefour. Thanks to globalization! Kami, dengan percaya diri, masuk kesitu..
Pagi pertama di Kairo. Menelusuri jalanan disini dengan Avanza carteran yang disopiri Faiz (dia adalah lulusan Al Azhar yang sebentar lagi menjadi eksportir) adalah pengalaman yang menegangkan. Para pengendara mobil disini sangat expert dalam hal menyetir, terbukti dari banyak mobil yang tidak memasang spion atau pakai spion tapi posisinya tertutup! Kemampuan mereka dalam hal membunyikan klakson juga sangat advance. Masalah jalanan Kairo sangat khas metropolitan: sibuk, macet dan polusi.
Ruwetnya jalanan Kairo mirip Jakarta, tapi penduduk sini lebih kaya. GDP per capita Mesir adalah USD 5.800, lumayan jauh di atas kita yang USD 2.300. Tapi inflasi dan tingkat suku bunga, lebih tinggi di Mesir.

Btw, konon konsep "bunga"/interest lahir di tanah ini. Masih ingat kuliah tentang kapitalisme di awal tadi? Orang Sumeria menyebut bunga dengan nama "mash". Orang Yunani menyebutnya dengan "tokos". Dua-duanya berarti "anak sapi". Orang Mesir kuno menyebutnya dengan "mas" yang berarti "melahirkan". Mengapa ada kesamaan pokok di antara bangsa-bangsa ini untuk menyebut bunga dalam hubungannya dengan anak ternak /melahirkan? Karena orang dulu sering berbisnis menyewakan ternaknya untuk digembalakan oleh orang lain. Sebagai imbalan, mereka minta ternaknya dikembalikan dengan jumlah lebih setelah waktu tertentu. Misalnya seseorang menyewakan 10 ekor sapi dan setelah 1 tahun orang tersebut minta pengembalian 11 ekor sapi, karena pemilik ternak tahu persis bahwa sapi bisa berkembang biak. Dari “anak sapi” itulah muncul konsep bunga/interest.

Kami menuju Kedutaan Besar Republik Indonesia, kulonuwun ke Pak Fachir, sang ambassador. Bapak ini sangat ramah dan murah senyum. Di ruang tamunya yang anggun, kami disuguhi teh hangat dan cerita-cerita tentang hubungan Indonesia – Mesir (tentu saja dengan ikon-nya: Soekarno & Nasser). Di tempat ini kami juga berkenalan dengan beberapa staf KBRI yang kemudian menjadi teman perjalanan yang menyenangkan: Mas Ali, Pak Buchori & Mas Heri.

Saatnya menelusuri lorong-lorong peradaban Mesir. Artefak pertama yang kami datangi adalah citadel Saladin, kastil besar di bukit Muqattam ini dibangun oleh Salahuddin Al Ayyubi sekitar abad ke 12. Selain benteng kokoh dan taman indah, kita juga masih bisa melihat aquaduct memanjang yang digunakan untuk menyalurkan air ke benteng. Setelah sibuk membayangkan suasana waktu pemerintahan Sultan Saladin, kami melanjutkan siang ke masjid Sultan Hassan. Kalau ke Kairo, anda harus kesini. Masjid ini sungguh menggambarkan keagungan arsitektur Islam, lengkap dengan pilar-pilar yang menjulang megah. Selanjutnya, jumatan di masjid Amru bin Ash, panglima yang diutus oleh Khalifah Umar bin Khattab untuk menaklukkan Mesir yang dikuasai Romawi. Sore itu, kami tafakur sejenak di depan makam Imam Syafii dan makam Reza Pahlevi, shah Iran yang melarikan diri karena revolusi pimpinan Khomeini meletus di negrinya.
Selain ziarah masjid dan makam, hari itu kami juga melakukan ziarah kuliner: roti ies, sup lidah burung (not the real one, ini cuma sejenis pasta) dan burung bakar. Roti ies adalah roti gandum berbentuk bulat pipih seukuran telapak tangan yang menjadi makanan pokok negri ini. Diproduksi dalam range kualitas dan harga yang sangat beragam. Kualitas paling rendah dijual seharga LE 1 untuk 20 biji roti ies. LE adalah pounds Mesir, kurs-nya sekitar Rp 1.700,00. Ya, benar.. sebiji roti ies tadi tidak sampai seratus perak. Huh, subsidi mendistorsi pasar. Harga seliter bensin nggak sampai empat ribu perak. Negri ini menghabiskan lebih dari Rp 100 trilyun per tahun untuk subsidi.

Pagi yang cerah dan Alexandria yang menunggu. Sepanjang perjalanan 200 km itu, kami disuguhi pemandangan yang memukau: di tengah-tengah gurun maha luas ini bertebaran kebun-kebun buah yang sangat subur. Banyak kebun anggur, apel, tomat dan (kita boleh bangga) mangga Sukarno. Ya, bibit mangga yang dulu jadi souvenir sang Presiden untuk Gamal Abdul Nasser itu sekarang sudah jadi komoditas ekspor negeri ini. Dan perjalanan menjadi lengkap karena audio mobil ini memutar lagu-lagu ST12, The Virgin dan Gita Gutawa. (Faiz bilang dia dan teman-temannya selalu mengikuti perkembangan musik dan film di tanah air).

Dan setelah tiga jam perjalanan, inilah kami: berdiri di megahnya Alexandria, disambut hembusan angin laut Mediterrania yang hangat. What a wonderful life! Terima kasih Tuhan, kami sudah ada di tempat ini..

Kota yang dulu ibukota Mesir ini, didirikan oleh Alexander Agung 300 tahun sebelum Masehi. Acara pertama di tempat ini adalah makan. Yup, kalau datang ke Alexandria cobalah makan siang disini. Nama restonya, Fish Market. Tempatnya di lantai dua, menghadap ke laut lepas. Menu kami: sup kepiting, salad seafood, fillet ikan goreng, ikan bakar, roti ies (tentu bukan yang LE 1 dapat 20 biji) dan jus semangka. Semuanya enak belaka. Info harga: kami makan berlima, untuk menu seafood yang enak serta tempat yang bagus tersebut berbiaya LE 400 (± Rp 680 ribu).
Setelah perut tenang, kami menjelajahi citadel Qaitbay. Benteng yang dibangun tahun 1400-an ini berdiri kokoh di pinggir pantai. Kita bisa naik ke atas benteng dan memandang ke hamparan laut yang sangat biru dan tenang. Dan sebagai orang yang mengaku anak kandung ilmu pengetahuan, kami juga berziarah ke Bibliotheca Alexandrina, perpustakaan tertua di muka bumi yang sudah dibangun kembali dengan gaya bangunan pascamodern yang keren. Kami pulang ke Cairo dengan kepala penuh kebahagiaan.

Sungai Nil adalah Anak Allah yang memberi hidup, begitu kepercayaan orang Mesir kuno. Disinilah dulu bayi Musa dihanyutkan. Sungai Nil mengalir sepanjang 6.650 km dan membelah tak kurang dari sembilan negara. Kalau tidak ada Nil, barangkali Mesir tidak akan pernah ada.
Malam itu, kami menjalani ritual tourisme Mesir: menjelajahi Nil dengan kapal pesiar sungai, lengkap dengan suguhan makan malam dan hiburan dari kultur Timur Tengah. Begitu menaiki perahu, kami disambut alunan gitar dan perkusi rancak yang menyanyikan lagu-lagu bernada asyik dengan lirik yang entah apa. Sambil bergerak di sepanjang tubuh Nil, dinner dimulai: appetizer sup mushroom, main course smoked salmon dan dessert puding. Di tengah-tengah itu, seorang penari laki-laki dengan rok besar mengembang muncul di panggung. Sepanjang performance ia terus berputar,memperagakan tannoura, tarian sufi mabuk cinta. Setelah itu, ini dia yang ditunggu para turis lelaki: putri duyung sungai Nil. Dengan baju seksi gemerlapan, sang zakia meliukkan tari perut, menyalakan malam. Pengalaman dua jam ini berongkos sekitar LE 250 (± Rp 400 ribu).
Kalau mau belanja oleh-oleh, ini saran tempatnya: Khan El Khalili. Ini adalah pasar semi-tradisional yang banyak menjual souvenir, spices, emas, dan deretan ahwaji (kedai kopi). Pasar ini pernah mengalami teror bom dua kali, tahun 2004 & 2009. Anda boleh berbelanja disini, tapi syaratnya: harus rajin menawar (kaos yang ditawarkan LE 80, akhirnya terbeli dengan harga LE 20).

Pagi yang mendebarkan. Hari ini aku diajak menjelajahi komplek piramida terbesar di Mesir: Giza. Di tempat ini ada tiga piramid besar, yaitu Kufru, Khafre dan Menkaure. Masing-masing piramid ini tersusun lebih dari dua juta batu dengan masing-masing batu seberat kira-kira 2 ton. Di depan ketiga piramid ini mendekam Sphinx, si singa berkepala manusia. Kita bisa masuk ke dalam piramid ini dan menelusuri lorong-lorong labirin di perutnya, dan berujung pada kamar2 batu tempat persemayaman terakhir sang firaun. Tapi anda dilarang memotret di dalamnya. But, let’s see if we could smuggle a camera.. Damage cost: LE 60 untuk masuk komplek dan LE 15 untuk masuk ke dalam piramid plus LE 20 untuk nyogok orang sana agar tidak cerewet melaporkan kamera kami. Total sekitar Rp 160 ribu.
Hari terakhir di Kairo. Sebelum pulang, kami sempat sedikit belanja dan menikmati kopi sore di Citystars. Ini adalah wajah Kairo yang lain: sebuah supermall yang modern dan sangat megapolitan. Disini berderet butik-butik international brands, resto-resto franchise, cineplex, amusement park..

Malam makin larut. Bulan sabit menggantung di atas sungai Nil.. Besok pagi aku harus meninggalkan Mesir, tapi suatu saat harus kembali kesini, untuk menziarahi lagi janji cinta sang Nefertiti.

(Catatan tambahan: seharusnya ada cerita tentang Raffah, perbatasan Gaza. Tapi sepertinya lain kali saja).