12 July 2010

Bulan Sabit di Cairo

Jakarta 10 Juni 2010, lewat tengah malam.
Panggilan boarding dari pesawat Emirates yang akan terbang ke Kairo via Dubai. Perjalanan akan sangat panjang. Jakarta – Dubai 7 jam, transit 8 jam, dan Dubai – Kairo 4 jam. Tapi itu tidak akan berarti, di benakku tergambar jelas patung sang Nefertiti, ikon artefak Mesir kuno yang sangat terkenal. Perempuan cantik ini (nefertiti berarti ‘kecantikan telah datang’) adalah salah satu pharaoh Mesir kuno, cintanya pada Pharaoh Amenhotep dan Tutankhamen telah menginspirasi suatu kebudayaan besar. Aku sedang sangat bersemangat: menjelajahi Mesir adalah menziarahi 4000 tahun perjalanan satu puncak peradaban manusia.

Aku juga curiga, disinilah kapitalisme lahir. Kata kapitalisme berakar pada “kapita” yang berarti kepala. Kepala adalah satuan yang digunakan untuk jumlah ternak -yang merupakan kapital terpenting saat itu- sebagai bentuk akunting paling mendasar tentang kepemilikan (anehnya, di Indonesia malah pakai satuan “ekor”)
Metode penghitungan menggunakan istilah “kepala”sudah ada sejak Mesir purba. Hieroglif Mesir pertama yang berbentuk kepala ternak kemudian menjadi “alef” dalam abjad Ibrani atau “alif” dalam abjad Arab. Coba perhatikan huruf alpha: kita bisa melihat bentuknya yang mirip kepala ternak bertanduk.

Jam 7 malam waktu setempat (4 jam lebih lambat dari WIB), aku dan ibu negara mendarat di Cairo International Airport. Musim panas disini. Angin sahara yang kering berhembus kencang, tapi matahari masih bersinar terang. Sayang, tampilan bandaranya belum mencerminkan kekayaan negri ini, dengan revenue ± US$ 41 milyar (terutama dari tourisme, migas, tekstil, makanan, emas) dan penduduk sekitar 77 juta.
Setelah mengurus visa on arrival, yang hanya USD 15, kami menuju penginapan di daerah Ma’adi. Setelah membongkar koper, masalah pertama datang: kami baru sadar bahwa ada beberapa toilettries dan kebutuhan lain yang harus kami beli. Baru dua jam di sudut Afrika ini, dimana hampir seluruh penduduknya berbahasa Arab, berbelanja bagi kami adalah masalah rumit. Tapi hidayah segera datang: ternyata di depan penginapan kami berdiri dengan gagah: Carrefour. Thanks to globalization! Kami, dengan percaya diri, masuk kesitu..
Pagi pertama di Kairo. Menelusuri jalanan disini dengan Avanza carteran yang disopiri Faiz (dia adalah lulusan Al Azhar yang sebentar lagi menjadi eksportir) adalah pengalaman yang menegangkan. Para pengendara mobil disini sangat expert dalam hal menyetir, terbukti dari banyak mobil yang tidak memasang spion atau pakai spion tapi posisinya tertutup! Kemampuan mereka dalam hal membunyikan klakson juga sangat advance. Masalah jalanan Kairo sangat khas metropolitan: sibuk, macet dan polusi.
Ruwetnya jalanan Kairo mirip Jakarta, tapi penduduk sini lebih kaya. GDP per capita Mesir adalah USD 5.800, lumayan jauh di atas kita yang USD 2.300. Tapi inflasi dan tingkat suku bunga, lebih tinggi di Mesir.

Btw, konon konsep "bunga"/interest lahir di tanah ini. Masih ingat kuliah tentang kapitalisme di awal tadi? Orang Sumeria menyebut bunga dengan nama "mash". Orang Yunani menyebutnya dengan "tokos". Dua-duanya berarti "anak sapi". Orang Mesir kuno menyebutnya dengan "mas" yang berarti "melahirkan". Mengapa ada kesamaan pokok di antara bangsa-bangsa ini untuk menyebut bunga dalam hubungannya dengan anak ternak /melahirkan? Karena orang dulu sering berbisnis menyewakan ternaknya untuk digembalakan oleh orang lain. Sebagai imbalan, mereka minta ternaknya dikembalikan dengan jumlah lebih setelah waktu tertentu. Misalnya seseorang menyewakan 10 ekor sapi dan setelah 1 tahun orang tersebut minta pengembalian 11 ekor sapi, karena pemilik ternak tahu persis bahwa sapi bisa berkembang biak. Dari “anak sapi” itulah muncul konsep bunga/interest.

Kami menuju Kedutaan Besar Republik Indonesia, kulonuwun ke Pak Fachir, sang ambassador. Bapak ini sangat ramah dan murah senyum. Di ruang tamunya yang anggun, kami disuguhi teh hangat dan cerita-cerita tentang hubungan Indonesia – Mesir (tentu saja dengan ikon-nya: Soekarno & Nasser). Di tempat ini kami juga berkenalan dengan beberapa staf KBRI yang kemudian menjadi teman perjalanan yang menyenangkan: Mas Ali, Pak Buchori & Mas Heri.

Saatnya menelusuri lorong-lorong peradaban Mesir. Artefak pertama yang kami datangi adalah citadel Saladin, kastil besar di bukit Muqattam ini dibangun oleh Salahuddin Al Ayyubi sekitar abad ke 12. Selain benteng kokoh dan taman indah, kita juga masih bisa melihat aquaduct memanjang yang digunakan untuk menyalurkan air ke benteng. Setelah sibuk membayangkan suasana waktu pemerintahan Sultan Saladin, kami melanjutkan siang ke masjid Sultan Hassan. Kalau ke Kairo, anda harus kesini. Masjid ini sungguh menggambarkan keagungan arsitektur Islam, lengkap dengan pilar-pilar yang menjulang megah. Selanjutnya, jumatan di masjid Amru bin Ash, panglima yang diutus oleh Khalifah Umar bin Khattab untuk menaklukkan Mesir yang dikuasai Romawi. Sore itu, kami tafakur sejenak di depan makam Imam Syafii dan makam Reza Pahlevi, shah Iran yang melarikan diri karena revolusi pimpinan Khomeini meletus di negrinya.
Selain ziarah masjid dan makam, hari itu kami juga melakukan ziarah kuliner: roti ies, sup lidah burung (not the real one, ini cuma sejenis pasta) dan burung bakar. Roti ies adalah roti gandum berbentuk bulat pipih seukuran telapak tangan yang menjadi makanan pokok negri ini. Diproduksi dalam range kualitas dan harga yang sangat beragam. Kualitas paling rendah dijual seharga LE 1 untuk 20 biji roti ies. LE adalah pounds Mesir, kurs-nya sekitar Rp 1.700,00. Ya, benar.. sebiji roti ies tadi tidak sampai seratus perak. Huh, subsidi mendistorsi pasar. Harga seliter bensin nggak sampai empat ribu perak. Negri ini menghabiskan lebih dari Rp 100 trilyun per tahun untuk subsidi.

Pagi yang cerah dan Alexandria yang menunggu. Sepanjang perjalanan 200 km itu, kami disuguhi pemandangan yang memukau: di tengah-tengah gurun maha luas ini bertebaran kebun-kebun buah yang sangat subur. Banyak kebun anggur, apel, tomat dan (kita boleh bangga) mangga Sukarno. Ya, bibit mangga yang dulu jadi souvenir sang Presiden untuk Gamal Abdul Nasser itu sekarang sudah jadi komoditas ekspor negeri ini. Dan perjalanan menjadi lengkap karena audio mobil ini memutar lagu-lagu ST12, The Virgin dan Gita Gutawa. (Faiz bilang dia dan teman-temannya selalu mengikuti perkembangan musik dan film di tanah air).

Dan setelah tiga jam perjalanan, inilah kami: berdiri di megahnya Alexandria, disambut hembusan angin laut Mediterrania yang hangat. What a wonderful life! Terima kasih Tuhan, kami sudah ada di tempat ini..

Kota yang dulu ibukota Mesir ini, didirikan oleh Alexander Agung 300 tahun sebelum Masehi. Acara pertama di tempat ini adalah makan. Yup, kalau datang ke Alexandria cobalah makan siang disini. Nama restonya, Fish Market. Tempatnya di lantai dua, menghadap ke laut lepas. Menu kami: sup kepiting, salad seafood, fillet ikan goreng, ikan bakar, roti ies (tentu bukan yang LE 1 dapat 20 biji) dan jus semangka. Semuanya enak belaka. Info harga: kami makan berlima, untuk menu seafood yang enak serta tempat yang bagus tersebut berbiaya LE 400 (± Rp 680 ribu).
Setelah perut tenang, kami menjelajahi citadel Qaitbay. Benteng yang dibangun tahun 1400-an ini berdiri kokoh di pinggir pantai. Kita bisa naik ke atas benteng dan memandang ke hamparan laut yang sangat biru dan tenang. Dan sebagai orang yang mengaku anak kandung ilmu pengetahuan, kami juga berziarah ke Bibliotheca Alexandrina, perpustakaan tertua di muka bumi yang sudah dibangun kembali dengan gaya bangunan pascamodern yang keren. Kami pulang ke Cairo dengan kepala penuh kebahagiaan.

Sungai Nil adalah Anak Allah yang memberi hidup, begitu kepercayaan orang Mesir kuno. Disinilah dulu bayi Musa dihanyutkan. Sungai Nil mengalir sepanjang 6.650 km dan membelah tak kurang dari sembilan negara. Kalau tidak ada Nil, barangkali Mesir tidak akan pernah ada.
Malam itu, kami menjalani ritual tourisme Mesir: menjelajahi Nil dengan kapal pesiar sungai, lengkap dengan suguhan makan malam dan hiburan dari kultur Timur Tengah. Begitu menaiki perahu, kami disambut alunan gitar dan perkusi rancak yang menyanyikan lagu-lagu bernada asyik dengan lirik yang entah apa. Sambil bergerak di sepanjang tubuh Nil, dinner dimulai: appetizer sup mushroom, main course smoked salmon dan dessert puding. Di tengah-tengah itu, seorang penari laki-laki dengan rok besar mengembang muncul di panggung. Sepanjang performance ia terus berputar,memperagakan tannoura, tarian sufi mabuk cinta. Setelah itu, ini dia yang ditunggu para turis lelaki: putri duyung sungai Nil. Dengan baju seksi gemerlapan, sang zakia meliukkan tari perut, menyalakan malam. Pengalaman dua jam ini berongkos sekitar LE 250 (± Rp 400 ribu).
Kalau mau belanja oleh-oleh, ini saran tempatnya: Khan El Khalili. Ini adalah pasar semi-tradisional yang banyak menjual souvenir, spices, emas, dan deretan ahwaji (kedai kopi). Pasar ini pernah mengalami teror bom dua kali, tahun 2004 & 2009. Anda boleh berbelanja disini, tapi syaratnya: harus rajin menawar (kaos yang ditawarkan LE 80, akhirnya terbeli dengan harga LE 20).

Pagi yang mendebarkan. Hari ini aku diajak menjelajahi komplek piramida terbesar di Mesir: Giza. Di tempat ini ada tiga piramid besar, yaitu Kufru, Khafre dan Menkaure. Masing-masing piramid ini tersusun lebih dari dua juta batu dengan masing-masing batu seberat kira-kira 2 ton. Di depan ketiga piramid ini mendekam Sphinx, si singa berkepala manusia. Kita bisa masuk ke dalam piramid ini dan menelusuri lorong-lorong labirin di perutnya, dan berujung pada kamar2 batu tempat persemayaman terakhir sang firaun. Tapi anda dilarang memotret di dalamnya. But, let’s see if we could smuggle a camera.. Damage cost: LE 60 untuk masuk komplek dan LE 15 untuk masuk ke dalam piramid plus LE 20 untuk nyogok orang sana agar tidak cerewet melaporkan kamera kami. Total sekitar Rp 160 ribu.
Hari terakhir di Kairo. Sebelum pulang, kami sempat sedikit belanja dan menikmati kopi sore di Citystars. Ini adalah wajah Kairo yang lain: sebuah supermall yang modern dan sangat megapolitan. Disini berderet butik-butik international brands, resto-resto franchise, cineplex, amusement park..

Malam makin larut. Bulan sabit menggantung di atas sungai Nil.. Besok pagi aku harus meninggalkan Mesir, tapi suatu saat harus kembali kesini, untuk menziarahi lagi janji cinta sang Nefertiti.

(Catatan tambahan: seharusnya ada cerita tentang Raffah, perbatasan Gaza. Tapi sepertinya lain kali saja).

No comments: